Mengenal Penyakit rabies atau anjing gila

Ridwan 25 August 2012 0


sejarah rabies

Anjing sudah dikenal oleh manusia sejak jaman pra sejarah sebagai binatang yang bersahabat dengan manusia. Tingkah anjing yang lucu dan kesetiaannya terhadap manusia pemiliknya menjadikan anjing salah satu hewan favorit yang banyak dipelihara oleh orang. Namun alangkah baiknya jika pemilik anjing selalu menjaga kesehatan anjingnya dengan memberikan vaksin untuk mencegah dari penyakit berbahaya, salah satu diantaranya rabies. Penyakit yang berbahaya pada anjing tidak hanya dapat membahayakan nyawa anjing, namun juga dapat menular pada manusia. Seperti misalnya rabies yang memang menular pada manusia.

penyakit rabies

Rabies di masa lalu dalam literatur kuno

Penyakit anjing gila memang penyakit yang sudah lama, sama umurnya dengan persahabatan manusia dengan anjing itu sendiri. Populasi anjing tersebar di seluruh dunia, sehingga berbagai bangsa mengenal penyakit rabies dengan berbagai sebutan. Di Indonesia, orang bisa menyebut penyakit rabies dengan sebutan anjing gila. Kata rabies sendiri diambil dari bahasa sansakerta rabhas yang artinya bertindak keras atau jahat. Sementara orang Yunani menyebut penyakit ini sebagai Iyassa atau Iytaa yang memiliki arti gila. Orang Jerman menyebut rabies sebagai tollwut yang diartikan sebagai marah atau merusak.

Sejarah peradaban manusia mencatat bahwa tingkah laku anjing yang mendadak menjadi buas dan mengeluarkan air liur yang berlebihan ini sudah ada sejak peradaban Mesopotamia, yakni sekitar 4000 tahun yang lalu. Di Babilonia juga ada catatan tentang penyakit ini yang dibuat sekitar tahun 2300 SM. Pada tahun 500 SM, seorang ilmuwan dari Yunani bernama Democritus juga pernah mendeskripsikan gejala penyakit anjing gila ini yang kemungkinan besar dimaksud adalah rabies.

Banyak literatur kuno mendeskripsikan penyakit ini seperti Aristoteles, Hippocrates, Xenophon, Epimarcus, Virgil dan Horace serta banyak lagi penulis di masa lalu pernah menulis tentang penyakit ini. Seorang dokter Romawi pada tahun 1000 M bernama Cardanus juga pernah mengasosiasikan hidrofobia atau ketakutan akan air dengan penyakit anjing gila ini. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit anjing gila ini sudah ada sejak jaman yang sangat dahulu kala. Banyak pula manusia yang menjadi korban gigitan anjing yang terjangkit penyakit ini dan mengakibatkan kematian. Dulu antivirus untuk penyakit ini belum ditemukan, sehingga akibatnya bisa fatal.

Riwayat rabies di Indonesia

Virus rabies pertama kali muncul di Indonesia pada tahun 1884 oleh catatan Hindia Belanda oleh Esser. Virus ini pertama kali menginfeksi kerbau. Tahun 1889, penyakit ini ditemukan di Penning, kemudian pada tahun 1894 ditemukan kasus rabies yang menyerang manusia yang ditemukan oleh E. V de Haan. Semua penemuan tersebut tercatat ada di kawasan Jawa Barat. Kemudian penyakit ini menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur seperti catatan yang ditemukan tahun 1953. Pada tahun 1958-1959, virus ini sampai di Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Pada tahun 1970 dan 1971, kasus virus ini ditemukan di Yogyakarta dan Jambi serta Aceh. Kurun waktu 1974 hingga 1983, penyakit ini ditemukan di Kalimantan. Seterusnya tiap tahun ada kasus di seluruh Indonesia yang merata hingga kini.

Namun kasus rabies paling banyak adalah Bali, dimana banyaknya anjing yang dipelihara secara liar disana tanpa diperhatikan kesehatannya. Hal ini membuat penyebarannya begitu cepat. Ketika satu anjing tertular, maka ia akan menulari kawanannya. Penyakit ini digolongkan dalam penyakit berbaya karena dapat menyebabkan kematian pada manusia. Mengingat bahayanya, maka dianjurkan untuk setiap hewan peliharaan, khususnya anjing untuk diberikan vaksin rabies supaya terhidar dari berbagai penyakit termasuk penyakit anjing gila ini. Jika kita paham penyakit ini dan bisa mencegahnya, maka penyakit ini tidak akan menyerang kita. (iwan)

Penularan penyakit rabies

Virus rabies ini pada dasarnya tidak hanya hidup di hewan anjing saja, namun juga ditemukan pada hewan karnivora lain seperti rubah, rakun, sigung dan lain-lain, tergantung pada lokasi dan kondisi geografis setempat. Virus penyebab penyakit ini adalah virus dari keluarga Rhabdoviridae dengan genus Lysavirus. Virus ini akan menggunakan hewan sebagai inang dan menularkannya pada hewan lainnya melalui gigitan. Gigitan kepada manusia dapat menularkan virus ini, termasuk hanya jilatan pada bagian kulit yang terluka. Virus akan masuk ke tubuh dan menuju sumsum tulang belakang dan otak melalui jaringan saraf. Setelah mereka berkembang biak dalam jumlah yang cukup, mereka akan menginfeksi jaringan non saraf seperti kelenjar air liur dan lain-lainnya. Oleh karena itulah penderita rabies akan memproduksi air liur yang berlebihan dan mengandung virus berbahaya ini.

penyakit anjing gila

Infeksi rabies pada hewan

Hewan yang terinfeksi virus penyakit ini pada dasarnya digolongkan menjadi dua jenis, yakni rabies buas dan rabies tenang. Pada umumnya hewan yang terjangkit penyakit rabies akan lebih agresif dan selalu menggigit apa saja yang ada di dekatnya. Air liurnya juga menetes tiada henti, meraung-raung. Lama kelamaan hewan tersebut akan lumpuh dan akhirnya mati. Sementara golongan yang lain adalah golongan rabies tenang biasanya membuat seekor hewan bersembunyi di satu tempat yang gelap, lalu mendapat serangan kejang, kesulitan bernafas, lumpuh lalu mati. Dalam kondisi tertentu, penularan virus ini dapat juga melalui udara. Meskipun hal ini jarang terjadi, tapi kasusnya ada dan secara keilmuan memang dimungkinkan. Suatu ketika ada penjelajah gua di Texas, Amerika Serikat yang terserang virus ini karena terlalu lama menghirup udara dalam gua yang terkontaminasi virus yang berasal dari jutaan kelelawar di dalam gua tersebut. Pada tubuh korban saat itu tidak ditemukan bekas gigitan kelelawar. Kemungkinan penularan lewat udara dalam kondisi normal sangat kecil, namun dapat terjadi pada ruangan yang pengab dan lembab seperti gua.

Infeksi dan masa inkubasi virus rabies

Gejala penyakit rabies pada umumnya akan muncul pada 30 hingga 50 hari setelah virus masuk ke dalam tubuh hewan atau manusia yang terkena gigitan dari anjing atau hewan penderita penyakit ini. Masa inkubasi virus yang terjadi pada hewan dapat terjadi selama 10-15 hari sebelum penyakit ini tampak dari luar. Sedangkan masa inkubasi pada manusia terjadi selama 9 bulan. Ada 4 stadium infeksi virus rabies, yakni:

  • Stadium Prodomal, yakni gejala yang ditunjukkan dengan gangguan tidur, hilangnya nafsu makan, demam, pusing dan sebagainya.
  • Stadium sensoris, yakni gejala yang ditunjukkan dengan rasa nyeri pada bekas gigitan, mengalami demam tinggi, bingung, gugup, gelisah dan terus mengeluarkan air liur berlebihan.
  • Stadium Sksitasi, yakni penderita akan semakin mudah gelisah dan kaget. Kadangkala akan mendapatkan kejang-kejang yang intens, takut dengan udara, takut dengan cahaya dan takut dengan air. Jika yang terserang adalah hewan buas seperti anjing, maka ia akan cenderung menjadi lebih agresif dan ingin menyerang siapa saja.
  • Stadium paralitik yakni ketika penderita mulai menurun tingkat agresivitasnya karena mulai mengalami kelumpuhan dari anggota tubuh dari atas ke bawah yang berlangsung cepat. Setelah mengalami kelumpuhan, kematian akan segera datang menjemput si penderita.

Demikian adalah penularan dan masa inkubasi virus dan penyakit rabies. Semoga artikel ini membantu anda untuk menghindari penyakit ini dan lebih berhati-hati dan peduli dengan hewan peliharaan anda. (iwan)

 

Leave A Response »

You must be logged in to post a comment.