Mengenal seluk beluk Keraton Yogyakarta Lebih Dalam yang penuh nilai sejarah

Ridwan 20 October 2012 1


Anda yang pernah berlibur ke Yogyakarta tentu tidak akan lengkap jika tidak melihat bangunan Keraton Yogyakarta yang megah itu. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau disebut Yogyakarta adalah bangunan istana yang berada di kota Yogyakarta. Istana ini adalah tempat tinggal bagi Sultan dari kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat yang dikenal dengan sebutan Hamengku Buwono.

Sejarah dari keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta mulai dibangun pada tahun 1755, dicetuskan oleh Hamengku Buwono I. Pendirian keraton Yogyakarta ini sebagai implikasi dari perjanjian Giyanti, yakni memecah kerajaan Mataram menjadi dua kerajaan, yakni Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini pada awalnya didirikan di tengah hutan beringin. Oleh karena itu hingga sekarang pohon masih di sisakan dua pohon beringin, baik di alun-alun utara maupun di alun-alun selatan keraton Yogyakarta. Diceritakan pula pada masa pembangunan keraton belum selesai, Sultan Hamengkubuwono tinggal di suatu pesanggrahan yang bernama Ambar Ketawang. Pesanggrahan tersebut terletak di Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman saat ini. Keraton Yogyakarta

Pada tahun 1950, Sultan Hamengku Buwono IX bersama Sri Pakualam VIII secara resmi menyatakan bahwa Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun meski berada di dalam NKRI, Yogyakarta dijadikan daerah Istimewa dengan salah satunya adalah Sultan selalu menjadi gubernur dan Sri Pakualam selalu menjadi Wakil Gubernur. Hal ini ditegaskan kembali dalam UU Keistimewaan Yogyakarta yang baru saja disahkan. Keraton hingga saat ini masih difungsikan sebagai tempat tinggal Sultan, sebagai sebuah tradisi. Bahkan selama ini sebagian keraton Yogyakarta terbuka untuk umum dan dijadikan sebagai tempat wisata yang bisa dikunjungi siapapun serta dianggap sebagai salah satu ikon kota Jogja.

Di dalam keraton Yogyakarta kita dapat melihat berbagai macam koleksi benda berharga milik kesultanan Yogyakarta, seperti beberapa pemberian raja-raja Eropa, pusaka keraton, gamelan dan berbagai macam ornamen di dalamnya. Menurut para arsitek, pola desain dan arsitektur keraton Yogyakarta adalah yang terbaik dari seluruh bangunan yang ada di tanah Jawa pada masa kejayaannya. Terdapat ruangan-ruangan yang luas dan sejuk serta paviliun yang indah dengan arsitektur khas Jawa yang indah dan berwibawa.

Bangunan-bangunan di dalam keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta terbagi menjadi tujuh komplek bagungan gedung yang merupakan inti dari kesultanan, yakni diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Balairung utara atau dalam bahasa Jawa disebut Siti Hinggil Ler
  2. Kamandhungan utara atau dalam bahasa Jawa disebut Kamandhungan Ler
  3. Sri Manganti
  4. Kedhaton atau keraton inti
  5. Kamagangan
  6. Kamandhungan selatan atau dalam bahasa Jawa disebut sebagai Kamandhungan Kidul
  7. Balairung selatan atau dalam bahasa Jawa disebut sebagai Siti Hinggil Kidul

Selain sebagai tempat wisata, keraton juga difungsikan sebagai pusat pelestarian kebudayaan khas Yogyakarta. Ciri khas budaya tersebut antara lain adalah berbagai macam upacara adat yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta setiap pagelarannya. Selain itu juga ada benda-benda kuno dengan nilai historis yang tidak tergantikan. Keraton Yogyakarta adalah institusi adat yang sekaligus sebagai pemangku adat yang mengatur segala hal. Hal ini bisa dilihat dari pakaian, sikap, filosofi hidup dan mitologi warga keraton Yogyakarta yang masih sangat kental dan asli. Sejak tahun 1995, UNESCO menetapkan komplek Keraton Yogyakarta sebagai salah satu situs warisan dunia.

Gaya arsitektur keraton yogyakarta

Dikatakan dalam sejarah pembangunan keraton yogyakarta, kepala arsitek dijabat langsung oleh Sultan Hamengku Buwono I. Menurut pengakuan ilmuwan asal Belanda, Theodoor Gautier, Thomas Pigeaud dan Lucien Adam, keahlian desain dan penataan ruang dalam istana tersebut sangat luar biasa. Mereka menyebut bangunan tersebut sebagai bangunan yang bersaudara dengan keraton Surakarta. Dalam waktu satu tahun, yakni antara tahun 1755 hingga 1756, bangunan istana inti dan tata ruang keraton serta lansekap kota tua Yogyakarta sudah berhasil diselesaikan. Sultan yang menjabat selanjutnya melakukan banyak renovasi dan penambahan bangunan di beberapa bagian.

Akan tetapi wujud istana yang ada saat ini adalah hasil pembangunan pada tahun 1921 hingga 1939 yang dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwono VIII yang langsung menjadi kepala arsitek. Bagian utama dari istana berjajar dari utara ke selatan. Bagian yang paling utara disebut sebagai Gapura Gladhag yang merupakan jalan masuk dan terus berlanjut hingga ke Plengkung Nirboyo di bagian paling selatan. Bagian utama dari Kraton Yogyakarta juga berjajar dari utara ke selatan, mulai dari Gaura Gladhag Pangurakab lanjut ke komplek alun-alun utara atau alun-alun ler, Masjid Gedhe atau Masjid Agung Kerajaan, Komplek Pagelaran yang merupakan pusat acara kraton, komplek Siti Hinggil Ler menuju ke komplek Kamandungan. Dari komplek Kamandhungan bagian utara menuju ke selatan, yaitu Komplek Sri Manganti, Komplek Kedhaton, Komplek Kamagangan, dan Komplek Kamandhungan Kidul.

Ada satu tempat yang namanya berubah, yakni Sasana Hinggil. Tempat ini dulunya disebut sebagai komplek Siti Hinggil Kidul yang berlanjut ke arah selatan menuju Alun-alun Kidul atau alun-alun selatan yang diakhiri di Plengkung Gadhing atau Plengkung Nirbaya. Namun jika ada satu bagian dari keraton yang sangat menyita perhatian adalah Kedhaton. Kedhaton utara dan selatan dapat dikatakan simetris karena bangunan tersebut sepenuhnya saling berpunggungan. Kedhaton Utara menghadap utara sepenuhnya, sedangkan Kedhaton Selatan menghadap selatan secara sepenuhnya. Hampir semua halaman keraton dilapis oleh pasir yang didatangkan dari pantai selatan. Setiap komplek dibatasi dengan tembok tinggi dan gerbang atau regol yang berornamen khas Semar Tinandu. Setiap bangunan tersebut memiliki ciri khas, yakni terbuat dari kayu jati yang tebal. Pada tiap gerbang ada dinding penyekat yang diberi nama Renteng atau Baturono.

Arsitektur pada keraton Yogyakarta memang mengandung arsitektur Jawa tradisional yang sangat kental. Di beberapa bagian memang ada unsur pengaruh budaya asing seperti Portugis, Belanda dan China. Namun nuansa budaya Jawa tetap mendominasi di dalam arsitektur bangunan keraton Yogyakarta ini.

Pada bagian depan bangunan terdapat konstruksi Joglo. Hal ini adalah ciri khas bangunan Jawa, dimana ada dua tipe Joglo, yakni Joglo Bangsal, yakni joglo terbuka yang tidak dikelilingi dinding, hanya dengan tiang saja. Biasanya joglo seperti ini banyak ditemukan pada tempat-tempat pertemuan. Sementara tipe joglo yang kedua adalah joglo gedong, yakni Joglo yang tertutup oleh dinding di bagian sisi-sisinya. Mayoritas bangunan di keraton Yogyakarta menggunakan dua tipe bangunan Jawa diatas. Sedangkan untuk bagian atap, ada dua macam jenis berdasarkan bahan yang digunakan. Yang pertama adalah bahan dasarnya bambu dengan atap juga dari bambu yang disebut dengan tratag. Yang kudua adalah berbahan dasar seng dan bertiang dari besi. Permukaan atas joglo berbentuk trapesium yang ditutup dengan genteng yang terbuat dari tanah atau biasa disebut dengan sirap. Selain beratapkan sirap, ada pula yang beratap seng dengan warna seragam, yakni merah atau abu-abu.

Pada bagian tengah bangunan ada beberapa tiang pancang yang bernama soko guru. Tiang ini pada umumnya berwarna gelap yang dihias dengan ornamen berwarna cerah seperti kuning, hijau muda, emas atau merah. Misalnya seperti pada bangunan Manguntur Tangkil akan ditemui ornamen kaligrafi yang bertuliskan Allah, Muhammad dan Alif Lam Mim Ra sebagai hiasan pada tiang soko guru. Di bagian bangunan tertentu diberikan sebuah batu persegi di bagian tengah. Batu ini disebut sebagai selo gilang, yang merupakan singgasana atau tempat duduk sultan ketika ada acara tertentu di bangunan tersebut. Pada setiap bangunan keraton Yogyakarta terdapat makna-makna dan nilai budaya yang ditunjukkan dengan ornamen yang membedakan kelas bangunan tersebut beserta kegunaannya.

Hal ini terlihat seperti pada bangunan yang kelasnya tinggi, seperti milik sultan atau permaisuri maka ornamen yang ada di sekeliling bangunan tersebut sangat rumit dan indah. Bangunan yang tidak memiliki nilai kepentingan dan penggunaannya juga tidak terlalu banyak, maka ornamennya akan sederhana. Bahkan di beberapa bangunan tidak memiliki ornamen apapun. Keindahan bangunan keraton juga dapat dinikmati dari bahan yang digunakan yang meliputi keseluruhan bangunan keraton. Hal ini menyebabkan keraton Yogyakarta memiliki nilai budaya dan adat Jawa yang paling kental diantara semua bangunan yang ada di pulau Jawa. Ini memang kelebihan keraton Yogyakarta dibanding bangunan lainnya.

Demikian adalah penjelasan mengenai sejarah, bangunan dan gaya arsitektur dari keraton Yogyakarta. Semoga bermanfaat bagi anda, terutama yang ingin mengunjungi keraton Yogyakarta ketika berlibur. Setidaknya dengan artikel ini anda sudah mengetahui seluk beluk keraton seperti apa. (iwan)

 

One Comment »

  1. {a73n9} 18 March 2013 at 5:01 pm -

    wah kayaknya itu bermanfaat bgt tuuhh!!!!!!!!:)

Leave A Response »

You must be logged in to post a comment.